The Power of Now – Eckhart Tolle

Pernahkah merasa bahwa pikiran adalah berkah luar biasa yang dimiliki manusia? Atau bahwa yang membedakan kita dengan hewan adalah hadirnya aktivitas berpikir pada manusia? Filsuf Descartes membuat pernyataannya yang terkenal : “Saya berpikir, karena itu saya ada”, semakin menegaskan bahwa pikiran memang sangat identik dengan manusia. Namun dalam buku ini, pikiran tidak lagi menjadi satu titik yang penting bagi manusia. Pikiranlah ternyata yang membuat kita menderita. Pada dasarnya, fungsi pikiran itu adalah alat untuk bertahan hidup, mengumpulkan, menyimpan, mempertahankan diri atas pikiran orang lain dan menganalisis informasi. Kita tidak menyadari bahwa ketidakmampuan menghentikan pikiran merupakan penderitaan yang mengerikan. Namun, karena semua orang melakukannya hal itu dianggap sesuatu yang wajar.

“Dengarkan Suara di benak Anda, hadirlah disana sebagai saksi keberadaan”. Continue reading

sajak buat tuhan

berada di tempat tertinggi

sendirian

tidakkah engkau merasa kesepian,

tuhan?

Wow..sajak yang indah. Sangat indah. Terima kasih mas Budi untuk sajaknya. Ya nggak lah, tuhan kan ada di surga ya. Nah, di surga kan banyak bidadari tuh, jadi ya nggak sendirian lah. Dan dijamin nggak kedinginan!

The Alchemist – Paulo Coelho

Buku ini berkisah tentang perjalanan seseorang dalam mengetahui misi hidupnya. Seringkali, apa yang ingin diraih terbentang sangat jauh di depan sehingga untuk meraihnya terlihat mustahil. Pembelajaran, pemahaman, keyakinan baru selalu mendapatkan pengujian yang sepadan. Akibatnya putus asa atau menyerah meneruskan perjalanan alih-alih telah mendapatkan kenyamanan pun menjadi pilihan..

”Takdir adalah apa yang selalu ingin kau capai. Semua orang, ketika masih muda, tahu takdir mereka..” ”Pada titik kehidupan itu, segalanya jelas, segalanya mungkin. Mereka tidak takut bermimpi, mendambakan segala yang mereka inginkan terwujud dalam hidup mereka. Tapi dengan berlalunya waktu, ada daya misterius yang mulai meyakinkan mereka bahwa mustahil mereka bisa mewujudkan takdir itu.”

”Hanya ada satu cara untuk belajar,” sahut sang alkemis. ”Melalui tindakan. Segala yang kau ketahui akan kau pelajari melalui perjalananmu..”

”Aku seorang alkemis karena aku memang alkemis,” kata sang alkemis.

”Aku mempelajarinya dari kakekku, yang belajar dari ayahnya, dan seterusnya, sampai ke masa penciptaan dunia. Pada zaman itu Karya Agung bisa dituliskan di batu zamrud. Tapi manusia mulai menolak hal-hal sederhana, dan mulai menulis traktat-traktat, tafsiran-tafsiran, dan kajian-kajian filosofis. Mereka juga mulai merasa tahu lebih banyak daripada orang2 lain. Akan tetapi Lempeng Zamrud itu masih hidup sampai sekarang. Lempeng Zamrud adalah jalur langsung menuju Jiwa Dunia.”

”Orang-orang bijak memahami bahwa alam semesta ini hanyalah citra dan tiruan akan surga. Dunia ini ada sekedar untuk menunjukkan bahwa ada dunia yang lebih sempurna. Allah menciptakan dunia ini agar melalui objek-objeknya yang terlihat, manusia bisa memahami ajaran-ajaran spiritualnya serta kebijaksanaan-Nya yang amat sangat mengagumkan. Itulah yang kumaksud dengan tindakan.” ” Dengarkan suara hatimu. Hatimu tahu segalanya, sebab hatimu berasal dari Jiwa Dunia, dan suatu hari nanti akan kembali ke sana.”

Ringan namun sarat pesan, bahasa yang digunakan sederhana tidak terlalu puitis namun tetap bisa indah, mungkin karena sederhananya, ya? Bagi yang suka ’berkelana’ saya rasa buku ini mewakili apa yang selalu terjadi dan dirasakan oleh para seeker tersebut, sekaligus menjadi teman saat putus harapan..

Core of Wisdom

Konon, ada seorang raja muda yang pandai. Ia memerintahkan semua mahaguru terkemuka dalam kerajaannya untuk berkumpul dan menulis semua kebijaksanaan dunia ini. Mereka segera mengerjakannya dan empat puluh tahun kemudian, mereka telah menghasilkan ribuan buku berisi kebijaksanaan.

Raja, yang pada saat itu telah mencapai usia enam puluh tahun, berkata kepada mereka, “Saya tidak mungkin dapat membaca ribuan buku. Ringkaskanlah dasar-dasar semua kebijaksanaan itu.”

Setelah sepuluh tahun bekerja, para mahaguru itu berhasil meringkas seluruh kebijaksanaan dunia dalam seratus jilid.

“Itu masih terlalu banyak,” kata sang raja.

“Saya sudah berusia tujuhpuluh tahun. Peraslah semua kebijaksanaan itu ke dalam inti yang paling dasariah.”

Maka orang-orang bijak itu mencoba lagi dan memeras semua kebijaksanaan dunia itu ke dalam hanya satu buku. Tapi pada waktu itu raja berbaring di tempat tidur kematiannya.

Maka pemimpin kelompok mahaguru itu pun memeras lagi kebijaksanaan-kebijaksanaan tadi ke dalam hanya satu pernyataan:

“Manusia hidup, lalu menderita, kemudian mati. Satu-satunya hal yang tetap bertahan adalah kasih.”

…dudududu

The Portable Nietzche

Aku membentuk lingkaran-lingkaran
Dan batas-batas suci disekelilingku
Lebih sedikit yang memanjat bersamaku
Menuju pegunungan yang lebih tinggi

Aku membangun sebuah kemarahan
Membentang dari pegunungan
Yang lebih suci
Dan lebih suci

Aku telah melihat lebih jauh
Aku telah mampu lebih jauh
Dari makhluk manapun
Berkehendak lebih jauh
Dari makhluk manapun

Kekuatan-kekuatan dari
Hakikat manusia yang paling tinggi
Paling rendah… termanis… paling menakutkan
Mengalir dari satu mata air kepastian
EGO, A K U!

..yah kalok cuman copy-paste, semua juga pasti bisa kan?

Jawabnya: S i g u r o ! yang menurut Wikipedia artinya:  Siguro (Spanish: Seguro): sure, definitely (used in Tagalog as ‘maybe, perhaps, probably’). Sigurado (Spanish: Asegurado): insured..! Sip?

Waktu

Alkisah di suatu pulau kecil, tinggallah berbagai macam benda-benda abstrak: ada Cinta, Kesedihan, Kekayaan, Kegembiraan dan sebagainya.

Mereka hidup berdampingan dengan baik. Namun suatu ketika, datang badai menghempas pulau kecil itu dan air laut tiba-tiba naik dan akan menenggelamkan pulau itu. Semua penghuni pulau cepat-cepat berusaha menyelamatkan diri.

Cinta sangat kebingungan sebab ia tidak dapat berenang dan tak mempunyai perahu. Ia berdiri di tepi pantai mencoba mencari pertolongan. Sementara itu air makin naik membasahi kaki Cinta.

Tak lama Cinta melihat Kekayaan sedang mengayuh perahu. Continue reading

Biji Apel Mencerahkan

Holaram, sang menteri dari Negeri Zimbakyu, sedang menghadiri suatu konfrensi internasional. Secara kebetulan tempat duduk dia bersebelahan dengan tempat duduk seorang menteri dari negara Paman Sam yang kebetulan beragama Yahudi. Kebetulan-kebetulan semacam itu membuat dia bingung, tetapi apa boleh buat? Kalau pindah tempat duduk, takut dianggap penghinaan terhadap wakil resmi negara Paman Sam.

Sebagaimana biasanya dalam konfrensi internasional, pidato-pidato yang dibacakan itu semuanya sudah tertulis rapih, dibuat oleh staf staf ahli para menteri yang menyampaikan dan akan dipelajari oleh staf staf ahli para menteri yang mendengarkannya. Para menteri yang hadir, hadir karena harus hadir. Hanya basa-basi. Ada yang mengantuk, bahkan ada yang tiduran. Ada yang sampai ngorok. Membosankan!

Continue reading